Hak Asuh dan Nafkah Anak: Yang Perlu Orang Tua Pahami
Perceraian memutus hubungan suami istri, bukan hubungan orang tua dan anak. Ini penjelasan soal hak asuh, nafkah, dan cara menjaga anak tetap merasa aman.
Administrator
· 3 menit baca
Bagian tersulit dari perceraian sering kali bukan urusan berkas, melainkan memikirkan bagaimana nasib anak. Kabar baiknya, hukum di Indonesia cukup jelas dalam melindungi kepentingan anak.
Siapa yang mendapat hak asuh
Untuk pasangan muslim, patokannya ada pada usia anak:
- Anak belum berusia 12 tahun (belum mumayyiz) umumnya diasuh ibu.
- Anak berusia 12 tahun ke atas diberi kesempatan memilih sendiri ingin ikut ayah atau ibu.
Namun ini bukan aturan mati. Hakim selalu kembali pada satu ukuran utama: kepentingan terbaik bagi anak. Hak asuh bisa jatuh ke ayah bila terbukti ibu tidak mampu menjalankan pengasuhan dengan baik, misalnya karena persoalan kesehatan yang berat, kekerasan, atau penelantaran. Sebaliknya juga berlaku.
Untuk pasangan non-muslim, penentuan hak asuh mengikuti pertimbangan hakim di Pengadilan Negeri dengan ukuran yang pada dasarnya sama.
Hak asuh tidak menghapus hak orang tua yang lain
Ini sering disalahpahami. Orang tua yang tidak memegang hak asuh tetap punya hak bertemu dan berkomunikasi dengan anaknya. Menghalangi pertemuan tanpa alasan yang sah justru bisa menjadi dasar permohonan pencabutan hak asuh.
Sebaliknya, orang tua yang tidak memegang hak asuh juga tetap memikul kewajiban, terutama soal nafkah.
Kewajiban nafkah anak
Ayah tetap wajib menanggung biaya pemeliharaan dan pendidikan anak sampai anak dewasa atau mampu mandiri, meskipun hak asuh dipegang ibu. Kewajiban ini melekat pada status sebagai orang tua, bukan pada status perkawinan.
Besarnya ditentukan hakim dengan menimbang:
- Kemampuan penghasilan ayah
- Kebutuhan nyata anak, termasuk biaya sekolah dan kesehatan
- Standar hidup yang selama ini dijalani anak
Agar bisa dieksekusi bila kelak tidak dibayar, sebaiknya nafkah anak dimintakan sejak awal dalam gugatan dan tercantum dalam amar putusan. Kesepakatan lisan di luar pengadilan sulit ditegakkan.
Bila nafkah yang sudah diputuskan tidak dibayarkan, kamu bisa mengajukan permohonan eksekusi ke pengadilan yang memutus perkara.
Menyampaikan kepada anak
Tidak ada naskah yang sempurna untuk percakapan ini, tapi beberapa hal terbukti membantu:
- Sampaikan bersama, bila memungkinkan. Anak perlu melihat bahwa keputusan ini bukan hasil pertengkaran yang membuatnya harus memihak.
- Tegaskan bahwa ini bukan kesalahannya. Anak-anak, terutama yang masih kecil, sering diam-diam merasa jadi penyebab.
- Jelaskan apa yang berubah dan apa yang tetap. Kepastian soal sekolah, kamar, dan jadwal bertemu jauh lebih menenangkan daripada penjelasan panjang soal alasan bercerai.
- Hindari menjelekkan pasangan di depan anak. Anak melihat dirinya sebagai bagian dari kedua orang tuanya.
- Beri ruang untuk marah dan sedih. Reaksi itu wajar dan tidak perlu buru-buru diperbaiki.
Kesepakatan tertulis membantu semua orang
Bila kamu dan pasangan masih bisa berkomunikasi, menyusun kesepakatan pengasuhan secara tertulis sangat dianjurkan. Isinya bisa mencakup jadwal bertemu, pembagian liburan, siapa menanggung biaya apa, dan cara mengambil keputusan penting soal pendidikan atau kesehatan anak.
Kesepakatan semacam ini bisa diajukan ke pengadilan untuk dikuatkan dalam putusan, sehingga punya kekuatan hukum bila di kemudian hari ada yang mengingkarinya. Selain melindungi anak, ini juga mengurangi peluang konflik berulang di masa depan.
Catatan
Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan nasihat hukum untuk kasus tertentu. Setiap perkara punya detail yang berbeda, jadi sebaiknya konsultasikan situasimu langsung dengan pendamping hukum.
Punya pertanyaan soal kasusmu sendiri?
Artikel hanya bisa menjelaskan gambaran umum. Ceritakan situasimu, dan kami bantu petakan langkahnya. Gratis, tanpa syarat.